Ahok bebas dari penjara,Apakah Ahok masih punya potensi di ranah politik sesudah keluar dari penjara??
Mari kita ulas secara teori,Orang bisa menjadi apa saja, atau tidak menjadi apa-apa sama sekali. Begitupun orang bisa punya potensi apa saja, atau tidak punya potensi sama sekali.
Seiring perkembangan zaman, dimana kita hidup dalam iklim demokrasi reformasi, maka politik bukan lagi hal yang tabu untuk dibicarakan, kekuasaan bukan seperti buah quldi, terlarang untuk dimiliki.
Perkara Ahok yang terjungkal 'lewat' al-maidah 51, disertai demo bernomor cantik plus berjilid-jilid pula, hal tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan untuk dapat mengganjal masa depan.
Harap dicatat bahwa politik adalah seni meraih segala kemungkinan yang ada dan ketegangan adalah bagian normal dari prosesnya.
Seperti kata Robert Harris dalam Conspirata, dunia politik, mengatasi setiap tantangan yang muncul dan bersiap menghadapi yang berikutnya.
Berkaca dari kasus Ahok. Perbedaan suku dan keyakinan, serta perkara satu kalimat, membuatnya tidak bisa melangkah lebih jauh.
Di dunia ini tak ada seorang politisi atau pemimpin yang bebas nilai. Ketika ia memimpin, kritik desktruktif akan selalu muncul dan berusaha memerosotkannya pelan-pelan. Dan seperti kita ketahui, akhirnya lelaki beretnis Tionghoa tersebut terpaksa menginap di bui.
Untuk itu perlu disadari, menjadi pemimpin yang hebat tidak berarti anda harus menikmati kemuliaan. Terkadang anda harus menerima bahwa anda tidak bisa memimpin semuanya dari depan.
Dan pertanyaan di atas:
Coba buka kisah Narendra Modi yang sekarang memimpin India. Atau Hun Sen, mantan anggota Khamer Merah yang kembali pimpin Kamboja.
Keduanya memang tak meninggalkan jejak buram lewat ayat-ayat, akan tetapi menoreh luka melalui penindasan HAM, mengguncang peradaban, menindas kemanusiaan. (Saya kira kasus ini lebih mengerikan).
Dan bandingkan pula dengan Aung San Suu Kyi, perempuan baik hati, arif, bijaksana, si penerima Nobel kemanusiaan yang pada akhirnya bisa memimpin Myanmar setelah mengalami perjalanan panjang, eh ternyata bergeming ketika melihat genosida Rohingya.
Intinya adalah: semua orang memiliki potensi, termasuk Ahok dengan kasus slip tounge nya. (Saya bersikukuh menyebut kasusnya demikian).
Bahkan pada akhirnya, para caleg eks pelaku kriminal pun (eks napi koruptor, eks pelaku pelecehan seksual terhadap anak) berpotensi menduduki kursi legislatif setelah MA membatalkan PKPU.
Dalam hal ini saya tak hendak menjawab akan jadi apa Ahok nantinya. Sebab saya bukan paranormal yang bertugas meramal garis nasib orang.
Tapi politik tak mengadopsi hitungan matematik, (kendati dibutuhkan saat penghitungan suara atau merekayasa anggaran), karena politisi adalah orang yang optimis, yang senantiasa tergugah oleh kemungkinan-kemungkinan yang dapat diperoleh dari kekuasaan.
Satu hal lagi, jika Ahok ingin terus berada dalam kekuasaan, kadang-kadang ia harus menggabungkan kekuatan dengan pihak-pihak yang sebetulnya lebih ingin ia hindari.
Akan sangat menarik apa yang Ahok akan lakukan setelah masa tahanannya berakhir. Sejauh ini melalui orang dekatnya Ahok tampaknya akan berkampanye untuk pilpres di kubu Jokowi lalu menjadi pembicara.
Status mantan narapidana kasus penistaan agama akan menyulitkan Ahok kalau dia terjun ke bidang politik lagi. Pihak oposisi pasti akan menggunakan status ini sebagai senjata untuk mematikan karir politik Ahok.
Ahok bisa dipandang ancaman besar bagi mereka. Rekam jejak Ahok sebagai mantan anggota DPR, mantan Bupati Babel dan Gubernur DKi tidak saja memungkinkan dia terpilih kembali menjadi gubernur DKi tapi juga terpilih sebagai Presiden R.I.
Pihak oposisi tentu saja tidak menginginkan “Jokowi Jilid II” episode 3&4 selama 10 tahun 2024-2034.
Oya faktor kemungkinan itu akan semakin besar jika Anis Baswedan gagal total sebagai Gubernur DKi saat ini. Keduanya akan selalu dibanding-bandingkan.simak video pembangunan desa plosok👉
Tapi suara dia adalah suara pahlawan bagi para pendukungnya (termasuk saya) jadi suara dia dapat menyetir arah politik Indonesia, walaupun tidak bisa ikut dalam kontestasi politik dia tetap menjadi figur politik.
Bagaimana soal idealisme atau hati nurani? Tanyakan pada rumput yang bergoyang

Komentar